Selasa, 17 Mei 2016

KLASIFIKASI IKLIM

IX. KLASIFIKASI IKLIM

Dunia ini kaya dengan berbagai tipe iklim.  Dari hutan-hutan tropika yang lebat sampai ke kutub yang beku meru­pakan keragaman daerah iklim yang tak terhingga.  Faktor-faktor yang memproduksi iklim di tempat manapun, yang disebut sebagai faktor pengendali iklim, adalah faktor yang menghasilkan perubahan cuaca dari hari ke hari.   Faktor-faktor itu adalah:
1.  Intensitas cahaya matahari dan variasinya terhadap letak lintang.
2.  Penyebaran (distribusi) tanah dan air
3.  Arus laut
4.  Angin yang mendominasi
5.  Posisi daerah tekanan tinggi dan rendah
6.  Posisi gunung (penghalang)
7.  Ketinggian tempat.

Tempat dengan faktor pengendali iklim yang sama cenderung memiliki iklim yang hampir sama. Melihat fakta tersebut para ahli iklim merasa perlu memberikan nama pada kelompok atau kelas iklim yang sama, dengan demikian lahirlah prinsip-prinsip klasifikasi iklim.  Klasifikasi iklim yang paling tua dilakukan oleh bangsa Yunani kuno hanya berdasarkan satu unsur iklim yaitu: suhu udara. Atas dasar suhu udara mereka membagi dunia menjadi tiga daerah yang secara astronomis dibatasi oleh garis lintang yaitu:
            a.  Daerah panas/tropis antara lintang 0o sampai 23.5o.
            b.  Daerah sedang/sub-tropis antara lintang 23.5º sampai 66.5o
            c.  Daerah dingin/kutub antara lintang 66.5o sampai 90o

Pada daerah tropis dan sub-tropis ditemukan terdapat tempat yang sifatnya sangat basah sampai kering, sehingga perkembangan konsep klasifikasi iklim selanjutnya dibuat lebih rinci dengan memperhitungkan unsur curah hujan bersama sama unsur suhu udara.

IX.1.  Sistem Klasifikasi Koppen

Sistem klasifikasi ini paling dikenal dan digunakan secara internasional. Klasifikasi ini menggunakan huruf untuk penamaannya dengan susunan sebagai berikut:
-          huruf pertama dengan huruf besar menyatakan tipe utama
-          huruf kedua menyatakan pola curah hujan
-          huruf ketiga menyatakan pola suhu udara
-          huruf keempat menyatakan sifat-sifat khusus

Tipe utama (huruf pertama) dalam Klasifikasi Koppen

A.  Iklim Tropis Lembab.

Semua bulan memiliki suhu rata-rata diatas 18oC.  Karena semua bulan adalah bulan hangat, tidak ada musim dingin yang nyata.

B.  Iklim Kering.

Kekurangan presipitasi terjadi hampir di sepanjang tahun.  Evaporasi potensial dan transpirasi melebihi presipitasi

C.  Iklim Lintang Tengah Lembab dengan musim dingin yang ringan.

Memiliki musim panas yang sedang sampai berat dengan musim dingin yang ringan.  Rata-rata suhu dari musim terdingin dibawah 18oC tetapi masih diatas -3oC.


D.  Iklim Lintang Tengah Lembab dengan musim dingin yang hebat.

Memiliki suhu musim panas yang hangat dan musim dingin yang rendah.  Rata-rata suhu dari bulan terhangat mele­bihi 10oC dan untuk bulan terdingin turun dibawah -3oC.

E.  Iklim Kutub.

Baik musim panas maupun musim dingin memiliki suhu yang sangat rendah.   Suhu rata-rata dari bulan terpanas dibawah 10oC.  Karena semua bulan dingin, tidak ada musim panas yang nyata.

Huruf kedua yang menunjukkan pola curah hujan

f.  Selalu basah, hujan setiap bulan > 60 mm
s.  Bulan-bulan kering jatuh pada musim panas
w. Bulan-bulan kering jatuh pada musim dingin
m.  Khusus untuk tipe A lambang ini berarti monsoon dengan musim kemarau pendek, curah hujan tahunan cukup tinggi

Cara membedakan tipe iklim Af, Am dan Aw perhatikan grafik dibawah ini.


IX.2. Sistem Klasifikasi Schmidt-Ferguson

Sistem ini cukup dikenal di Indonesia dan digunakan dalam bidang kehutanan dan perkebunan. Sistem ini membutuhkan data hujan bulanan minimal 10 tahun. Klasifikasi Schmidt-Ferguson didasarkan pada jumlah bulan basah, bulan lembab dan bulan kering pada setiap tahun pengamatan dengan kriteria sebagai berikut:

-          Bulan basah (BB) = bulan dengan curah hujan > 100 mm
-          Bulan lembab (BL) = bulan dengan hujan antara 60 – 100 mm
-          Bulan kering (BK) = bulan dengan hujan < 60 mm

Jumlah bulan-bulan dengan kriteria tersebut dijumlahkan selama tahun pengamatan kemudian dicari nilai rata-ratanya untuk mendapatkan nilai Q

Q = rata-rata bulan kering (BK)/rata-rata bulan basah (BB) x 100%    (9.1)

Kemudian tipe iklim ditentukan berdasarkan segitiga dibawah ini

Dengan demikian terdapat tipe iklim dari A sampai H dengan ciri sebagai berikut:

A.  Daerah sangat basah dengan vegetasi hutan hujan tropis
B.  Daerah basah dengan vegetasi hutan hujan tropis
C.  Daerah agak basah dengan vegetasi hutan rimba dan terdapat vegetasi yang menggugurkan daunnya pada musim kering seperti pohon jati
D.  Daerah sedang dengan vegetasi hutan musim
E.  Daerah agak kering dengan vegetasi hutan sabana (padang rumput)
F.  Daerah agak kering dengan vegetasi hutan sabana
G.  Daerah sangat kering dengan vegetasi padang ilalang
F.  Daerah ekstrim kering dengan vegetasi padang ilalang

IX.3.  Sistem Klasifikasi Oldeman

Oldeman membuat sistem klasifikasi yang dihubungkan dengan pertanian khususnya tanaman pangan.  Dengan mempertimbangkan kebutuhan air untuk tanaman pangan Oldeman menetapkan bulan basah (BB) adalah hujan bulanan jangka panjang ≥ 200 mm dan bulan kering (BK) adalah hujan bulanan jangka panjang < 100 mm.

Setelah rata-rata hujan bulanan didapatkan dari rangkaian data sepanjang minimal 10 tahun ditentukan apakah nilai rata-rata itu termasuk BB atau BK untuk semua bulan dalam 1 tahun. Dari rangkaian itu dihitung berapa panjang rangkaian (bulan) yang termasuk BB (tanpa terputus BK) dan berapa panjang rangkaian (bulan) yang termasuk BK (tanpa terputus BB).

Tipe utama klasifikasi Oldeman dibagi menjadi 5 tipe yang didasarkan pada bulan basah berturut-turut yaitu:

Tipe A : > 9 bulan basah berturut-turut
Tipe B: 7 – 9 bulan basah berturut-turut
Tipe C: 5 – 6 bulan basah berturut-turut
Tipe D: 3 – 4 bulan basah berturut-turut
Tipe E: < 3 bulan basah berturut-turut

Sedangkan subdivisinya dibagi menjadi 4  yang didasarkan pada bulan basah berturut-turut yaitu:

Sub 1 : < 2 bulan kering berturut-turut
Sub 2 : 2 – 4 bulan kering berturut-turut
Sub 3:  5 – 6 bulan kering berturut-turut
Sub 4: >6 bulan kering berturut-turut
Dalam hubungannya dengan pertanian maka Oldeman mengemukakan penjabaran untuk tiap-tiap tipe agroklimat sebagai berikut:

A   : Sesuai untuk padi terus menerus tetapi produksi kurang karena pada umumnya intensitas radiasi surya rendah sepanjang tahun

B1 :  Sesuai untuk padi terus menerus, perlu direncanakan mulai tanamnya.  Produksi tanaman akan tinggi bila panen jatuh pada musim kering

B 2 : Dapat ditanam dua kali padi setahun dengan varietas unggul umur pendek, musim kering yang pendek cukup untuk tanaman palawija

C 1 :  Tanaman satu kali padi dan palawija dapat dua kali setahun

C 2 :  Hanya dapat satu kali padi, palawija yang kedua harus hati-hati jangan jatuh pada bulan  kering

D 1 : Dapat ditanam padi dengan varietas umur pendek (genjah); produksi tinggi karena intensitas radiasi surya tinggi, waktu untuk menanam palawija cukup.

D 2 : Hanya mungkin satu kali padi atau satu kali palawija, tergantung pada ketersediaan air irigasi


E    :  Daerah ini pada umumnya terlalu kering, mungkin hanya dapat satu kali palawija dan tergantung pada turunnya hujan.

BRIKET

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1  Kulit Durian
Buah durian yang berasal dari pohon durian (Durio zibethinus Murr) banyak tumbuh di hutan maupun di kebun milik penduduk. Ciri buahnya, bentuknya besar bulat/oval dengan aroma rasa, baunya khas dan menjadi buah primadona yang banyak  disukai masyarakat Indonesia, tak terkecuali masyarakat Lampung dan sekitarnya. Kulit buah yang keras dan tebal yang mencapai hampir seperempat bagian dari buahnya tersebut merupakan bagian yang dibuang begitu saja sampai akhirnya menjadi busuk.. Durian terdiri dari tiga bagian yaitu daging buah sekitar 20-35 %, biji 5-15% dan kulit yang mencapai 60-75% dari total berat buah durian. Kulit durian merupakan bagian terbesar dari buah durian yang selama ini hanya dibuang dan sampai saat ini belum banyak teknologi untuk memanfaatkan limbah kulit durian. Kulit durian secara proporsional mengandung unsur Selulose (50-60%), Lignin (5%), Pati (5%), dan Unsur organik lain (30-40%). Kulit durian memiliki nilai kalori sebanyak 3786.95 kal/gr dengan kadar abu rendah sekitar 4%. Kulit durian dapat digunakan sebagai energi alternatif yang berupa briket. (Poonkasem, 1999).
2.2  BriketBriket merupakan bahan bakar yang diubah bentuk, ukuran, kerapatan, dan tekanannya, sehingga menjadi produk yang lebih praktis penggunanya. Sehingga cocok digunakan untuk industri makanan, ataupun industri-industri lain baik berskala rumah tangga maupun besar. Briket mampu meggantikan sebagian dari kegunaan bahan bakar minyak maupun gas dalam hal pengeringan, pembakaran dan pemanasan. Saat ini dipasaran telah tersedia berbagai jenis briket misalnya briket batubara, briket arang dan sebagainya. Pembuatan briket arang dari limbah indutri pengolahan kayu dilakukan dengan cara penambahan perekat tapioka, dimana bahan baku diarangkan terlebih dahulu kemudian dihaluskan, dicampur perekat dan dicetak (kempa dingin) dengan sistem hidraulik manual selanjutnya dikeringkan (Pari, 2012).
2.3  Manfaat Dan Standar Briket Buatan Indonesia
Menurut Yudanto dan Kartika (2009) briket bioarang mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan kayu biasa (konvensional), antara lain: (1) Panas yang dihasilkan oleh briket bioarang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kayu biasa dan nilai kalor dapat mencapai 5.000 kalori. (2) Briket bioarang bila dibakar tidak menimbulkan asap maupun bau, sehingga bagi masyarakat ekonomi lemah yang tinggal di kota-kota dengan ventilasi perumahannya yang kurang mencukupi, sangat praktis menggunakan briket bioarang. (3) Teknologi pembuatan briket bioarang sederhana dan tidak memerlukan bahan kimia lain kecuali yang terdapat dalam bahan briket itu sendiri (Sulistyanto, 2007)
Adapun sifat fisik dan kimia briket buatan beberapa negara menurut Rusito (2011) dalam Sari dan Rita (2012) dapat dilihat pada Tabel 1.Tabel1. Standar Briket Buatan di Indonesia
Sifat
SNI briket buatan
Kadar air (%)
7,57-10
Kadar abu (%)
10
Kerapatan (gr/cm3)
0,59
Nilai Kalor (kal/gr)
5600
Kuat tekan (kg/cm2)
50
 2.4  Pembuatan BriketPembuatan briket tidaklah terlalu sulit hanya saja membutuhkan sedikit pengalaman dalam memberikan takaran antara bubuk arang dan perekat. Pembuatan briket kulit durian ini dilakukan dengan beberapa tahap. Tahap pertama adalah pembuatan arang kulit durian dengan cara pemanggangan, atau dibakar secara langsung sampai menjadi arang (bukan menjadi abu). Tahap selanjutnya adalah penggilingan dan pengayakan. Penggilingan dilakukan sebagai upaya untuk memperkecil ukuran arang kulit durian tersebut, dan pengayakan dilakukan sebagai upaya untuk menyeragamkan ukuran dari serbuk kulit durian tersebut. Selanjutnya dilakukan pencampuran serbuk arang dengan perekat tepung kanji. Tepung kanji memiliki sifat yaitu lengket bila dilarutkan dengan air panas, sifat inilah yang digunakan dalam pembuatan briket yaitu sebagai perekat serbuk-serbuk arang briket. Kanji umum digunakan sebagai bahan perekat karena banyak terdapat dipasaran dan harganya relatif murah. Perekat ini dalam penggunaannya menimbulkan asap yang relatif sedikit dibandingkan dengan bahan lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa briket arang dengan tepung kanji sebagai bahan perekat akan sedikit menurunkan nilai kalornya bila dibandingkan dengan nilai kalor kayu dalam bentuk aslinya (Capah, 2007).Menurut Triono (2006) kadar perekat dalam briket arang tidak boleh terlalu tinggi karena dapat mengakibatkan penurunan mutu briket arang yang sering menimbulkan banyak asap. Tahapan berikutnya pada pembuatan briket adalah pencetakan. Pencetakan dapat dilakukan dengan cara manual maupun dengan mesin. Pada saat pencetakan adonan briket ditekan agar briket memadat. Tahapan terakhir adalah pengeringan yang dilakukan menggunakan oven dengan suhu 60o selama 24 jam atau menjemur dibawah matahari langsung selama 2-3 hari.

APLIKASI SPRAYER

APLIKASI SPRAYER
(Laporan Alat dan Mesin Pertanian)


DYAH ISWORO
1314071017



LABORATORIUM DAYA ALAT DAN MESIN PERTANIAN
JURUSAN TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
MEI 2015



PENDAHULUAN


A.    Latar belakang
Pada budidaya tanaman pertanian,  diperlukan beberapa tahap hingga pada akhirnya mencapai proses panen dan proses pasca panen. Dalam proses-proses tersebut yang merupakan proses awal adalah pengolahan lahan (soil tillage). Pada proses ini berfungsi untuk menggemburkan tanah, menghilangkan kotoran-kotoran dan sampah pada tanah. Proses pengolahan lahan meliputi tahap pembajakan dan penggaruan.

Setelah dilakukannya pengolahan tanah seperti yang pernah dilakukan pada praktikum sebelumnya maka selanjutnya adalah penanaman, tanaman tidak tumbuh begitu saja namun perlu perawatan dengan menggunakan sprayer, kita bisa melakukan perawatan tanaman.

Oleh karena itu pada laporan saya kali ini akan membahas tentang pengaplikasian sprayer.

B.      Tujuan
tujuan dari praktikum ini adalah
  1. Mahasiswa mampu mengenal sprayer.
  2. Mahasiswa mampu mengetahui kegunaan sprayer.
  3. Mahasiswa mampu menggunakan sprayer.



TINJAUAN PUSTAKA


  1. Pengertian sprayer
Alat penyemprot  (Sprayer) digunakan untuk mengaplikasikan sejumlah tertentu bahan kimia aktif pemberantas hama penyakit yang terlarut dalam air ke objek semprot (daun, tangkai, buah) dan sasaran semprot (hama-penyakit). Efesiensi dan efektivitas alat semprot ini ditentukan oleh kualitas dan kuantitas bahan aktif tersebut yang terkandung didalam setiap butiran larutan tersemprot (droplet) yang melekat pada objek dan sasaran semprot. Sprayer adalah alat/mesin yang berfungsi untuk memecah suatu cairan, larutan atau suspensi  menjadi butiran cairan (droplets) atau spray. Sprayer merupakan alat aplikator pestisida yang sangat diperlukan dalam rangka pemberantasan dan pengendalian hama & penyakit tumbuhan. Sprayer juga didefinisikan sebagai alat aplikator pestisida yang sangat diperlukan dalam rangka pemberantasan dan pengendalian hama & penyakit tumbuhan. Kinerja sprayer sangat ditentukan kesesuaian ukuran droplet aplikasi yang dapat dikeluarkan dalam satuan waktu tertentu sehingga sesuai dengan ketentuan penggunaan dosis pestisida yang akan disemprotkan.

  1. Fungsi sprayer
Fungsi utama sprayer adalah untuk memecahkan cairan yang disemprotkan menjadi tetesan kecil (droplet) dan mendistribusikan secara merata pada objek yang dilindungi.


Kegunaan khusus sprayer sebagai berikut:
  1. Menyemprotkan insektisida untuk mencegah dan memberantas hama.
  2. Menyemprotkan fungisida untuk mencegah dan memberantas penyakit.
  3. Menyemprotkan herbisida untuk mencegah dan memberantas gulma.
  4. Menyemprotkan pupuk cairan.
  5. Menyemprotkan cairan hormon pada tanaman untuk tujuan tertentu.

Fungsi lainnya dari nozzle adalah :
  1. Menentukan ukuran butiran semprot (droplet size)
  2. Mengatur flow rate (angka curah)
  3. Mengatur distribusi semprota, yang dipengaruhi oleh Pola semprotan, Sudut semprotan, dan Lebar semprotan

















METODELOGI


A.    Waktu dan tempat praktikum
Praktikum alat dan mesin pertanian ini dilaksanakan pada hari senin tanggal 18 Mei 2015 di Laboratorium Daya Alat dan Mesin Pertanian

B.     Alat dan bahan praktikum
Alat yang kami gunakan dalam praktikum ini adalah sprayer , pensil, kertas, stopwatch, kamera dan bahannya adalah air. 













HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHASAN


  1. Hasil praktikum
Dari praktikum yang telah kami lakukan maka hasil dari tekanan dan ukuran volume adalah
Vvol = 1500 ml = 1,5 l
q = 103 kali pompa
T = 7 menit 32 detik = 452 detik
Dari data diatas maka kita dapat menghitung Vkec. Sprayer dalam mengeluarkan air tersebut.


  1. Pembahasan
Sprayer diisi dengan air sebanyak 1500 ml, selanjutnya dilakukan pemompaan sebanyak yang kita inginkan sampai tidak bisa dipompa lagi. Kelompok saya melakukannya sebanyak 103 kali. Selama 7 menit 32 detik. Selanjutnya dihitung kecepatan air keluar jika dilakukan 1 kali pompa dan hasilnya adalah 0,00193 l/mnt.
Sprayer untuk keperluan pertanian dikenal dengan 3 jenis sprayer, yakni knapsack
sprayer, motor sprayer, dan CDA sprayer.

a.       Knapsack Sprayer
Knapsack sprayer atau dikenal dengan alat semprot punggung. Sprayer  ini paling
umum digunakan oleh petani hampir di semua areal pertanian padi, sayuran, atau
diperkebunan. Prinsip kerjanya adalah Larutan dikeluarkan dari tangki akibat dari adanya tekanan udara melalui tenaga pompa yang dihasilkan oleh gerakan tangan penyemprot. Pada waktu gagang pompa digerakan, larutan keluar dari tangki menuju tabung udara sehingga tekanan di dalam tabung meningkat. Keadaan ini menyebabkan larutan pestisida dalam tangki dipaksa keluar melalui klep dan selanjutnya diarahkan oleh nozzle bidang sasaran semprot. Tekanan udara yang dihasilkan oleh pompa diusahakan konstant, yaitu sebesar 0,7 – 1,0 kg/cm2 atau 10-15 Psi. Tekanan sebesar itu diperoleh dengan cara mempompa sebanyak 8 kali. Untuk menjaga tekanan tetap stabil, pemompaan dilakukan setiap berjalan 2 langkah pompa harus digerakan sekali naik-turun. Kapasitas tangki knapsack sprayer bervariasi berkisar antara 13, 15, 18, 20 tergantung mereknya. Contoh knapsack sprayer antara lain Merek Solo, Hero, CP 5, Matabi, Berthoud, dan PB.

b.      Motor Sprayer
Sprayer jenis ini mengunakan mesin sebagai tenaga penggerak pompanya yang
berfungsi untuk mengeluarkan larutan dalam tangki. Cara penggunaan motor sprayer bervariasi tergantung jenis dan mereknya, antra lain digendong di punggung, ditarik dengan kendaraan, diletakan di atas tanah, dibawa pesawat terbang, dan sebagainya. Contoh motor sprayer adalah mist blower power sprayer, dan boom sprayer. Keuntungan dengan menggunakan motor sprayer terutama kapasitasnya sangat luas dengan waktu yang relatif singkat, dapat menembus gulma sasaran walaupun sangat lebat dan minim tenaga kerja.

Kelemahannya antara lain:
  • Harganya relatif mahal dan biaya pengoprasian serta perawatannya yang juga mahal.
  • Tidak dianjurkan pada tanaman yang masih muda karena dikhawatirkan drift merusak tanaman.
  • Motor sprayer harus dirawat secara rutin meliputi servis, penggantian suku cadang, dll.

c.       CDA Sprayer
Berbeda dengan 2 jenis sprayer sebelumnya, CDA sprayer tidak menggunakan
tekanan udara untuk menyebarkan larutan semprot ke bidang semprot sasaran, melainkan berdasarkan gaya grafitasi dan putaran piringan.Cara kerjanya adalah: larutan mengalir dari tangki melalui selang menuju nozzle, diterima oleh putaran piringan bergerigi (spining disc), dan disebarkan ke arah bidang sasaran. Putaran piring digerakan oleh dinamo dengan sumber tenaga bater 12 volt. Putaran piringan sebesar 2.000 rpm dan butiran yang keluar seragam dengan ukuran 250 mikron. Ukuran 250 mikron merupakan ukuran optimal untuk membasahi permukaan gulma. Berdasarkan keseragaman bentuk butiran yang dihasilkan maka alat semprot ini disebuat CDA (controlled Droplet Application). Contoh CDA sprayer antara lain: Mikron herbi 77, Samurai, dan Bikrky. Sprayer dikelompokan berdasarkan tenaga penggerak dan jenis pompa sprayer :






1)      Berdasarkan tenaga penggerak

a)      Sprayer dengan Penggerak Tangan (Hand Operated Sprayer)
·         Atomizer (Hand sprayer)
·         Sprayer otomatis (Compressed air sprayer)
·         Sprayer semi otomatis (Knapsack sprayer)
·         Bucket sprayer
·         Barrel sprayer
·         Wheel barrow sprayer
·         Slide pump sprayer
b)      Sprayer Bermotor (Power Sprayer)
·         Hydraulic sprayer
·         Blower sprayer
·         Hydro pneumatic sprayer
·         Aerosol generator

2)      Berdasarkan pompa sprayer
a)      Pompa tekanan udara yaitu memompa udara ke dalam tangki cairan dan menekan  cairan ke nozzle.
·         Sprayer otomatis (Compressed air sprayer)
·         Hydro pneumatic sprayer
b)      Pompa cairan yaitu memompa cairan langsung ke nozzle.
Sprayer semi otomatis
·         Bucket sprayer
·         Barrel sprayer
·         Wheel barrow sprayer
·         Slide pump sprayer
·         Power hydraulic sprayer
c)      Pompa penghembus udara
·         Atomizer (Hand sprayer)
·         Power blower sprayer
Adapun jenis-jenis sprayer yang digunakan di lapangan yaitu :
a)      Home hold sprayer (untuk kebutuhan rumah tangga)
b)      Knapsack-sprayer dengan pompa udara tekan
c)      Knapsack-sprayer bertekanan konstan dengan pompa plunyer
d)     Bucket sprayer (sprayer ember)
e)      Barrel sprayer (sprayer tong), dan Wheel barrow sprayer (sprayer beroda)

Spesifikasi Handsprayer

Secara umum spesifikasi alat penyemprot meliputi data teknis mengenai :
*     Volume tangki : 10 – 20 L
*     Kapasitas tangki : 8 – 16 L
*     Kekuatan tangki : 10 – 15 kg / cm2 ( 140 – 200 psi)
*     Bahan konstruksi : plat logam anti karat

Bagian-bagian utama sprayer secara umum meliputi nozzle, pompa, pipa penyalur, saringan, tangki cairan dan sebagian dilengkapi dengan alat pengukur tekanan serta klep pengatur semprotan. Dari bagian-bagian di atas, nozzle meruapakan bagian yang terpenting.

Nozzle adalah bagian sprayer yang menentukan karakteristik semprotan ; yaitu pengeluaran, sudut penyemprotan, lebar penutupan, pola semprotan, dan pola penyebaran yang dihasilkan. Nozzle dibuat dalam bermacam-macam disain. Setiap tipe butiran cairan yang khas dihasilkan oleh nozzle yang khas sesuai dengan kebutuhan.

  1. Tipe-tipe nozzle :
  • Centrifugal nozzle yaitu bentuk nozzle yang paling banyak dijumpai, dibuat dengan sudut penyemprotan yang lebar dan dengan berbagai model pola penyemprotan dan kapasitas.
  • Flooding nozzle yaitu menghasil semprotan dengan model semburan. Nozzle ini disebut juga fan spray nozzle.
  • Two-fluid atomizer yaitu menghasilkan droplet yang sangat halus dan menghindarkan pemborosan cairan, tetapi membuthkan tenaga yang lebih besar daripada tipe-tipe yang lain.
  • Rotary atomizer yaitu digunakan untuk pekerjaan besar, menyemprotkan cairan dalam jumlah besar dengan gaya sentrifugal dan mempunyai pola penyebaran 360o.

  1. Komponen-komponen nozzle :
  • Body
  • Penyaring
  • spuyer (nozzle tips), dan  nozzle cap

  1. Ada beberapa macam nozzle pada sprayer yaitu :

a.       Hallow cone nozzle
Cara yang menarik ke dalam nozzle mengalami pemusingan hingga penyebaran butiran cairannya akan berbentuk cincin. Besar kecilnya ukuran sprayer kecuali ditentukan oleh tekanan yang diberikan juga ditentukan oleh tekanan yang diberikan juga ditentukan oleh jarak pemusingan cairannya. Makin panjang lintasan pemusingan yang ditempuh, makin besar ukuran spray, tetapi makin kecil diameter penyebaran butiran sprayernya. Keuntungan penggunaan nozzle ini karena dapat diperoleh penyebaran ukuran butiran spray yang seragam.

b.      Solid-cone nozzle
Nozzle ini merupakan hasil modifikasi dari hallo cone nozzle. Prinsip pembentukan spray hampir sama dengan hollo cone nozzle tetapi pada solid cone nozzle diberikan tambahan internal axiat jet yang tepat ukurannya yang akan memukul cairan di dalam nozzle yang sedang berputar. Dengan pemukulan tersebut cairannya akan menjadi makin turbulance dan aliran cairannya menjadi hancur, meninggalkan nozzle dalam bentuk butiran spray, dengan penyebarannya akan berbentuk lingkaran penuh.


c.       Fan type nozzle
Type ini dibuat dengan jalan membuat potongan halus atau saluran yang menyilang permukaan luar dari arifice plate (plat tarikan). Bentuk tersebut menyebabkan cairan yang meninggalkan nozzle akan berupa lembaran tipis seperti kipas, yang kemudian akan pecah menjadi butiran-butiran spray, dengan penyebarannya akan berbentuk elips penuh. Kelemahan nozzle ini mempunyai ukuran butiran cairan yang tidak merata. Terutama pada bagian ujung tepi penyemprotan, terdapat pengumpulan ukuran butiran yang besar-besar. Nozzle tipe ini kebanyakan dipakai pada sprayer bertekanan rendah (20-100 psi) untuk pengendalian herba.

Adapun bagian-bagian beserta fungsi dari masing-masing komponen Knapsack Sprayer tersebut adalah :

  1. Tangki (tank) merupakan tempat herbisida atau larutan lainnya diisikan. Volumenya dapat berbedabeda tergantung dengan tipe dari sprayer masing-masing. Dari bahan plat tahan karat,untuk menampung cairan.
  2. Pengaduk (agitator) untuk mengaduk larutan herbisida yang ada di dalam tangki. Pengadukan dimaksukan agar suspensi atau campuran larutan herbisida dapat tersebar merata dan tidak mengendap, sehingga tidak menyumbat nozzle.
  3. Unit pompa (pump) yang terdiri dari silinder pompa, dan piston dari kulit. Untuk memberikan tekanan kepada larutan herbisida, sehingga larutan dapat dikeluarkan dari tangki dan mengalir melalui selang dan keluar pada nozzle.
  4. Pengatur tekanan (pressure gauge) untuk  mengatur tekanan terhadap besar kecilnya volume cairan yang dikeluarkan, sesuai dengan kebutuhan.
  5. Saringan (strainer) untuk menyaring larutan yang akan dimasukkan ke dalam tangki. Hal ini dilakukan supaya tidak ada zat lain yang terikut sehingga dapat merusak dan menyumbat nozzle.
  6. Penutup untuk menutup tangki, supaya pada saat dikerjakan tidak tumpah dan untuk menjaga tekanan udara di dalam tangki.
  7. Tangkai pompa untuk memompa cairan.
  8. Saluran penyemprot terdiri dari kran, selang karet, katup serta pipa yang bagian ujungnya dilengkapi nozel.
  9. Sabuk penggendong digunakan untuk menyandang sprayer pada punggung.
  10. Selang karet untuk menyalurkan larutan dari tangki ke nozzle.
  11. Piston pompa
  12. 12.Katup pengatur aliran cairan keluar dari tangki.
  13. Katup pengendali aliran cairan bertekanan yang ke luar dari selang karet.
  14. Laras pipa penyalur aliran cairan bertekanan dari selang menuju ke nosel.
  15. Nozel untuk memecah cairan menjadi partikel halus dan memperhalus larutan yang dikeluarkan pada saat penyemprotan, sehingga dihasilkan daya jangkau yang luas dan merata.

Perhatikan dengan teliti bagian-bagian dari sprayer sebelum penggunaan. Jika terdapat kerusakan pada satu bagian sprayer maka diharuskan dengan secepatnya untuk memperbaikinya atau gantilah dengan spart part baru supaya kerusakan tersebut tidak mengakibatkan kerusakan pada bagian lainnya. Jangan biarkan kerusakan kecil menjadi besar. Hal-hal yang harus sering diperhatikan, yaitu kurangnya pemberian pelumas yang membuat katup sering macet, seringnya penggunaan yang membuat spuyer membesar sendiri, sering terjadi aus serta kotor pada kran atau pengatur, sering terjadi aus pada packing atau segel, waspada akan terjadinya kebocoran, telitilah pada semua bagian sprayer yang rentan akan terjadinya kerusakan. Bijaklah dalam pemakaian sprayer yaitu sesuai kegunaannya saja. Jangan gunakan sprayer untuk keperluan lain, seperti tangki sprayer digoyang dengan keras agar pelarut tercampur atau memakai stik sprayer untuk mengaduk. Sebaiknya ketika menyemprot pakailah air bersih sebagai pelarutnya. Setelah selesai digunakan cucilah sprayer beberapa kali, pertama cuci dengan cara mengocok dengan air bersih kemudian buang air tersebut, pencucian selanjutnya dengan membuang airnya melalui spuyer, pencucian terakhir dengan memberi setengah tutup AERO 810 disertai dengan air bersih, kocok sedikit dan keluarkan melalui spuyer, buang air sisa yang ada di dalam tangki. Setelah sprayer sudah cukup kering berilah minyak kelapa sebagai pelumasnya, bagian yang perlu dilumasi adalah bagian yang melakukan gerakan misalnya piston. Sprayer sudah siap disimpan dengan posisi terbalik ataupun miring. Selalu lakukan perawatan karena tanpa perawatan sprayer akan lebih mudah rusak.





























KESIMPULAN


Dari pembahasan diatas maka kesimpulan dari laporan ini adalah
  1. Kecepatan air keluar jika dilakukan 1 kali pompa dan hasilnya adalah 0,00193 l/mnt.
  2. Knapsack sprayer atau dikenal dengan alat semprot punggung dengan cara kerjanya larutan dikeluarkan dari tangki akibat dari adanya tekanan udara melalui tenaga pompa yang dihasilkan oleh gerakan tangan penyemprot.
  3. Pada waktu gagang pompa digerakan, larutan keluar dari tangki menuju tabung udara sehingga tekanan di dalam tabung meningkat. Keadaan ini menyebabkan larutan pestisida dalam tangki dipaksa keluar melalui klep dan selanjutnya diarahkan oleh nozzle bidang sasaran semprot.
  4. Selalu lakukan perawatan karena tanpa perawatan sprayer akan lebih mudah rusak
  5. Bagian-bagian utama sprayer secara umum meliputi nozzle, pompa, pipa penyalur, saringan, tangki cairan dan sebagian dilengkapi dengan alat pengukur tekanan serta klep pengatur semprotan.













DAFTAR PUSTAKA


  • Irwanto, A.K., 1983, Alat dan Mesin Budidaya Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor; Bogor.
  • Purwadi, T., 1999, Mesin dan Peralatan, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada; Jogjakarta.
  • Sukirno. 1999, Mekanisasi Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian .Universitas Gadjah Mada ;Jogjakarta.